MAKNA SIMBOLIK BADIK DAN SARUNG DALAM TRADISI SIGAJANG LALENG LIPA: ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES
Keywords:
semiotika Roland Barthes, makna simbolik, badik, sarung, Sigajang Laleng Lipa, budaya BugisAbstract
Tradisi Sigajang Laleng Lipa merupakan salah satu praktik budaya masyarakat Bugis yang sarat dengan simbol dan nilai sosial, khususnya melalui penggunaan badik dan sarung sebagai representasi identitas, kehormatan, dan relasi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolik badik dan sarung dalam tradisi Sigajang Laleng Lipa dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes yang mencakup level denotasi, konotasi, dan mitos. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam dengan tokoh adat dan masyarakat setempat, serta dokumentasi visual. Analisis data dilakukan dengan menginterpretasikan tanda-tanda visual dan naratif yang muncul dalam praktik tradisi untuk mengungkap lapisan makna budaya yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa badik tidak hanya dimaknai sebagai senjata tradisional, tetapi juga sebagai simbol kehormatan, keberanian, dan legitimasi sosial, sementara sarung merepresentasikan nilai kesopanan, identitas kultural, dan batas etika dalam interaksi sosial. Pada level mitos, kedua simbol tersebut mereproduksi narasi tentang maskulinitas, tatanan sosial, dan kontinuitas nilai-nilai budaya Bugis dalam konteks masyarakat kontemporer. Penelitian ini berkontribusi pada penguatan kajian komunikasi budaya dengan menunjukkan bagaimana
References
Attri, S., & Chander, Y. (2019). Reproducing meaning: A dialogic approach to sports and semiotics. GLOCAL Conference Proceedings.
Auni, L., & Nidawati. (2023). The semiotic meaning and philosophy of symbols in the Gayo ethnic marriage processions in Central Aceh. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 11(2), 345–360. https://doi.org/10.26811/peuradeun.v11i2.XXX
Aziz, A., & Sutoyo, S. (2021). Semiótica photostory Mertidusun as a noble value for environmental sustainability. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 724(1), 012034. https://doi.org/10.1088/1755-1315/724/1/012034
Barthes, R. (1972). Mythologies (A. Lavers, Trans.). Hill and Wang. (Original work published 1957)
Barthes, R. (1977). Image–Music–Text (S. Heath, Trans.). Fontana Press.
Chen, Y. Y., & Hur, C. (2025). Exploring semiotic practices and cultural identity in a Bunun Indigenous elementary school in Taiwan from a Barthesian perspective. Multicultural Education Review, 17(1), 1–18. https://doi.org/10.1080/2005615X.2025.XXXXXX
Palimbong, D. R., Maknun, T., & Lukman, A. B. T. B. (2025). Symbols in the ritual of Rampanan Kapa’ in Tana Toraja Regency: A study of semiotics. Edelweiss Applied Science and Technology, 9(1), 112–125. https://doi.org/10.55214/east.v9i1.XXXX
Simanungkalit, K. E., Saddhono, K., & Rohmadi, M. (2025). Representation of cultural elements in Tombak Sulu Sulu among the Batak Toba community: A semiotic analysis using Roland Barthes’ perspective. Theory and Practice in Language Studies, 15(3), 456–468. https://doi.org/10.17507/tpls.1503.05
YouTube Citra Bone. (n.d.). Sigajang Laleng Lipa: Tarung Sarung masyarakat Bugis [Video]. YouTube.





